Wednesday, May 5, 2010

Esei : Sucinya Al-Qur'an di Matamu

Masuk pada hari Minggu, 10-Februari-2008 - oleh : Rahmad Adhi Pratomo
Dibaca 612 kali
sumber :arsip.kartunet.com

Saya tidak habis pikir, kenapa banyak sekali orang-orang yang tidak pernah serius dalam pekerjaannya. Setiap hari hanya pergi-pulang kantor tanpa memberikan hasil apa pun untuknya, apalagi untuk orang lain. Yang dipikirkannya hanya uang, uang, dan uang. Saya melihat mereka begitu gembiranya membicarakan orang lain, bergosip, menertawakan orang lain. Padahal mereka ada di dalam kantor dan sedang bekerja. Alasan mereka apabila ditanya, adalah agar pekerjaannya menjadi penuh warna dan kenangan. Sungguh aneh, apa dia tidak tahu kalau negara kita butuh keseriusan dari rakyatnya? Apa mereka tidak tahu negara kita sedang dalam keterpurukan? Apakah itu yang dinamakan pekerjaan yang penuh warna dan kenangan? Pikiran saya terus mencari dan berakhir di sebuah titik. Memang beginilah dunia.

Tapi kemudian, saya berkunjung ke suatu desa di Jawa Barat untuk mengunjungi nenek saya. Desanya terlihat ramai dan begitu bersih. Saya tidak menyangka akan menyaksikan sebuah kenyataan hidup yang luar biasa di sana. Ketika itu hati saya bergetar melihat seorang wanita paruh baya yang bekerja dengan serius dan penuh kecintaan pada pekerjaannya sebagai guru mengaji, padahal kedua matanya tidak dapat melihat. Postur tubuhnya kecil seperti anak SMP, mengenakan kerudung berwarna putih. Wanita yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara ini bernama Miftahunnisa. Dia tidak pernah menganggap kebutaannya adalah akhir dari hidupnya. Malah dia menganggap ini adalah cara yang diberikan Allah untuknya agar dia meraih kebahagiaan dengan cara yang lain. 

Setiap hari dia pergi-pulang menggunakan ojek dari rumah ke tempat dia mengajar, di salah satu tempat pembelajaran Al Qur'an Braille di Jawa Barat. Dia menempuh perjalanan selama kurang-lebih setengah jam, melalui jalan-jalan tikus di desanya, juga melewati sawah-sawah yang berwarna hijau kekuningan. 
Sebagai seorang pengajar Al Qur’an huruf Braille, dia mengajar mengaji orang-orang yang kondisinya sama seperti dia. Kurang lebih ada sepuluh orang yang ada di kelas itu. Ada yang seumur, tapi banyak juga yang lebih tua daripadanya. Jari-jemarinya begitu halus menyentuh Al Qur'an, mengikuti jari-jari anak didiknya. Begitulah cara dia menyumbangkan ilmu untuk anak didiknya. Begitu sabarnya dia mengajar. Bahkan ketika anak didiknya salah, dia tidak pernah marah. Dia mengulangi memberi contoh sambil terus memperbaiki kesalahan yang dibuat anak didiknya. Sungguh sabar dan mulia hati wanita ini. Setiap hari dia mengajar dengan penuh keikhlasan dan tak pernah lelah. Walau sering saya melihat guratan lelah di dahinya, tapi guratan itu seketika hilang ketika dia menampilkan senyumnya. Saya tidak melihat dia sedang mencari harta, yang saya lihat adalah antusiasmenya untuk menyumbangkan ilmu. Andai semua orang melakukan pekerjaan seperti yang dia lakukan, saya yakin di dunia ini tidak akan ada orang miskin, karena harta adalah milik Allah dan sudah ditetapkan rezeki kita oleh-Nya. Tinggal bagaimana cara kita menjemput rezeki itu dengan cara yang halal. 

Dia memiliki seorang anak perempuan yang sehat tanpa cacat apa pun dari suami yang kondisinya sama seperti dia. Anak perempuan itu bernama Nila, umurnya baru dua tahun. Bila dia pergi mengajar, Nila dititipkan di rumah saudaranya yang tinggal dekat rumahnya. Dia mengenal suaminya ketika laki-laki itu belajar mengaji padanya. Umur suaminya lebih tua dua tahun. Mereka bertemu pertama kali tujuh tahun yang lalu. Suaminya orang yang baik dan penyayang. Mereka tinggal di rumah yang sederhana, menjalin rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan dirahmati oleh Allah. Rumah itu seakan dihiasi cahaya Qur’ani. Seakan terangnya menghilangkan keadaan mereka yang buta. Saudara dan tetangganya senantiasa membantu mereka. Subhanallah. 

Sejak kecil ia sudah belajar membaca Al Qur'an Braille. Gurunya, Ustadz Nasrudin mengajarinya dari tidak bisa hingga mahir membacanya. Ketika itu dia sudah memiliki keinginan untuk mengajarkan ilmunya kepada orang-orang yang bernasib seperti dia. Tidak heran jika cita-citanya itu didengar oleh Allah SWT dan diamini oleh malaikat. Dia tidak bertopang dagu; dia wujudkan impiannya dengan bekerja keras. 

Sudah banyak cerita tentang orang sukses yang saya tahu. Mulai dari A sampai Z. Tapi itu semua tentang manusia yang bertubuh sempurna. Pernah saya berpikir, jika itu mengenai orang yang dikaruniai kekurangan berupa hilangnya pandangan, mungkinkah ia dapat sukses? Tidak terbayang dalam benak saya, di dalam dunia yang gelap, masih mungkinkah manusia seperti itu berjuang? Pertanyaan saya terjawab. Ternyata sudah banyak penghargaan yang dia terima, bahkan dia menjadi guru teladan se-Jawa Tengah. Sungguh besar kuasa-Mu. Saat Kau kurangi suatu nikmat dari seseorang, Kau lebihkan nikmat yang lain untuknya. Kekurangan itu ternyata menjadi kelebihan bagi dirinya. Hanya sedikit manusia yang mempunyai sifat takwa; dia termasuk yang sedikit itu. Dia menjadi orang yang saya kagumi. Seorang wanita, tunanetra, mau berusaha, tudak mudah putus asa, percaya diri, dan masih banyak sifat-sifat lainnya yang patut dicontoh. 

Selain menjadi guru, dia juga ibu rumah tangga yang sangat baik. Dia mengasuh anaknya dengan sabar dan penuh kasih sayang; memandikan dengan tangannya sendiri, menggantikan popoknya, mencucikan bajunya. Dia juga membersihkan rumah dan memasak makanan untuk suaminya. Hari demi hari dilaluinya dengan penuh rasa syukur dan kesabaran. Entah perasaan bangga atau kasihan yang ada dalam hati saya waktu itu. Saya merasa ditegur Allah SWT dengan melihat keadaan wanita ini. Saya malu pada diri saya sendiri. Begitu banyak waktu saya habiskan untuk hal yang sia-sia. Saya melihat diri saya sebagai pecundang yang tak pernah menghasilkan apa-apa untuk diri saya apalagi orang lain, padahal negeriku membutuhkan orang-orang yang serius dan memiliki motivasi yang besar untuk memajukannya. Saya melihat potensi yang besar dalam diri saya, tapi saya biarkan potensi itu tenggelam sedalam-dalamnya. Saya seperti dicambuk seribu kali di dalam tubuh saya. Saya ingin semua orang tahu tentang hal ini dan merasa tercambuk seperti yang saya alami. 

Saya berharap kisah ini menjadi motivasi besar yang tidak pernah hilang; masuk ke dalam hati nurani dan memberi kita dorongan yang kuat untuk serius bekerja, melupakan senda gurau yang hanya sebentar nikmatnya. Alangkah indahnya jika kita menjadikan pekerjaan sebagai tugas suci yang tidak semata-mata untuk mencari harta. Betapa baiknya bila kita menjadikan potensi yang diberikan Allah SWT sebagai potensi luar biasa yang dapat diberdayakan dengan baik. Akhirnya, saya pun pulang dengan beban pikiran dan perasaan yang campur aduk. Beban pikiran ini terus saya rasakan dalam perjalanan pulang ke rumah. Pulang nanti, saya putuskan untuk berubah. Saya ingin orang yang membaca kisah ini dapat mengetahui potensi besar yang ada pada dirinya, dan tidak menggunakan potensi itu untuk melakukan hal-hal yang sia-sia belaka. Bersyukur dan berkaryalah! ***

Penulis adalah pemenang kehormatan dalam lomba penulisan esei PERTUNI 2007 dengan tema 'Akses Wanita Tunanetra ke Dunia Kerja'

3 comments:

  1. Goentoer Al KahfiMay 5, 2010 at 4:49 PM

    Subhanallah, selamat buat penulis yg sdh membuat tulisan yg ckp baek dan bs memberikan motivasi kpd pembacanya. BRAVO ADHI

    ReplyDelete
  2. Tulisannya emang satu paragraf ya di?
    Klo bisa dipisah biar lebih enak bacanya,,, ^^

    Btw,, Great Essay,,

    Thx,,

    ReplyDelete
  3. @k Goentoer : Alhamdulillah,terimakasih k Goentoer..^^
    @Anonim: sebenernya dipisah perparagraf..tapi karena terburu-buru jadi g sempet deh misahin paragrafnya..he^^

    ReplyDelete